Jumat, 14 Oktober 2016

Kesebelasan Pendekar Al-Qur'an (Part 1)

Beberapa minggu yang lalu, saya kedatangan tamu istimewa dari Jogja. Dia adalah adek kelas saya saat di kampus. Sebut saja namanya Aminah, Seorang Ibu muda dengan satu anak yang masih berusia 3 tahun. Setengah tahun lebih tua dari putra saya yang kedua. Dia datang bersama rombongan. Yaitu Ibu, adek kandungnya, dan sepupunya, seorang kyai muda dari Malang beserta istrinya. 

Adek kelas saya ini saya sebut sebagai Tamu Istimewa karena dua hal : Yang pertama karena saya sudah lama tidak berjumpa dengannya setelah kurang lebih 8 tahun. Dan alasan kedua karena saya mengagumi keluarganya. Mengapa demikian ? Karena dia memiliki sebelas bersaudara dan semuanya penghafal Quran. Ya, semuanya ! Bukan dua, tiga, lima . Jika anda berfikir dia adalah seorang putri Gubernur yang memiliki sepuluh bersaudara penghafal Quran yang ramai beredar di media massa itu, Maaf, anda salah menebaknya. 

Saat dia memberitahu akan mampir ke rumah saya, saya telah mempersiapkan hidangan terbaik menurut saya. Saya beli Os Oyen terlezat di Bangil sebanyak 8 Bungkus. 5 untuk tamu, dan 3 untuk sohibul bait, yaitu saya, Ibu saya dan suami.

Hidangan es yang lumer di mulut itupun saya sajikan untuk jamuan para tamu. Dan anda tahu bagaimana hasilnya ? Ternyata hidangan saya sia-sia belaka, karena kebetulan para tamu saya sedang berpuasa semua, kecuali Aminah karena sedang berhalangan. Padahal hari itu adalah hari Rabu. Bukan senin atau kamis.

Saya jadi ingat kalau Aminah juga rajin puasa selama di kampus. Sering kali dia berpuasa dan berdiam di Masjid. Sehingga kami menjulukinya Siti Maryam. Saya juga teringat Aminah mengisahkan Ayahnya yang rajin berpuasa tiap hari kecuali hari-hari yang terlarang berpuasa selama bertahun-tahun.

Ayahnya adalah seorang Doktor Indonesia pertama  dari Madinah. Meski bergelar Doktor, penampilannya sangat jauh dari kesan seorang akademis tinggi. Beliau sungguh amat sangat bersahaja. Pun demikian dengan Ibunya. Sangat bersahaja, meski memiliki 11 putra-putri penghafal Quran. 

Saat saya bertanya bagaimana caranya bisa memiliki kesebelasan penghafal Quran ? Beliau hanya tersenyum, dan menjawab ala kadarnya. Dan terkesan tidak ingin ditanya perihal hal tsb. Mungkin beliau takut menjadi riya ataupun Ujub. Saya jadi makin menaruh hormat pada beliau. Sama dengan putrinya, jika saya mengorek info tentang keluarganya, dia menjawab dengan malu-malu, sangat jauh dari sikap berbangga diri. Meski dia layak demikian. 

Di akhir pertemuan, Ibunya mohon pamit dan meminta berkah doa pada Ibu saya. Ibu sayapun menolak dengan halus. Dan mengatakan seharusnya Ibu saya yang harus meminta doa pada beliau karena beliau telah berhasil memiliki anak para penghafal Quran. Karena sama-sama menolak, sempat terjadi saling lempar meminta doa antara tamu dan Sohibul bait. Sejenak saya merasa terenyuh melihat pemandangan indah ketawadhu'an yang terjadi di ruang tamu.

Setelah sekian menit tidak ada yang mau "mengalah" untuk mendoakan yang lain, akhirnya suami saya membeei jalan tengah dan berkata : Jenengan-jenengan sekalian adalah tamu kami yang berstatus musafir. Dan doa musafir lebih maqbul daripada doa orang yang mukim. Karena alasan demikian, akhirnya sepupunya berdoa untuk kebaikan kami semua, dan kami semua mengamininya. Setelah itu kami foto bersama. Dan tamupun melanjutkan perjalanannya ke Sidoarjo. 

Di lain waktu akan saya ceritakan sekilas tentang keluarganya, kesebelasan pendekar Qur'an. Insya Allah. 

BANGIL, 15 Oktober 2015

2 komentar: