Rabu, 05 Oktober 2016

Non Sense


Tak ku sangka, akhirnya, ku temukan mereka dalam ketidakberdayaan, di tengah hamparan sahara tandus seperti ini, tak ada desau angin, hanya rona pasi tercipta di sana. Sejenak aku ratapi apa yang ku cari selama ini... Ribuan mayat kata yang telah mati bertahun-tahun lamanya.

Ribuan mayat kata itu menumpuk menjadi satuan dinding kokoh, menindih satu sama lain. Kekuatannya melebihi dinding mayat tentara-tentara Persia yang di jadikan benteng pertahanan perang oleh tentara- tentara Romawi dengan kekuatan dendam membuncah di dada mereka di masa silam.

Sejenak aku terpaku, melihat panorama menyayat hati itu. Tak kuhiraukan lagi bau anyir dari dinding itu menusuk dan menikam hidungku bertubi-tubi. Meski demikian, kulihat dinding itu berpendar oleh cahaya-cahaya langit. Dan itulah satu-satunya alasan, yang membuatku terus bertahan untuk berdiri begitu dekat dengannya, sangat dekat, melebihi bayangannya sendiri.

Tiba-tiba saja kurasakan kristal-kristal bening dari manik-manik mataku memaksa keluar dari peraduannya, tanpa ekspresi, begitu deras, hingga membasahi pipi bumi. Setiap tetesannnya, menayangkan cuplikan-cuplikan angin badai zaman yang ku lalui.

Dan.. separuh malam telah berlalu, aku masih saja diam dengan sejuta makna . Sampai pada satu titian detik, satu suara menyeruak di antara dinding kepasarahan jiwa, membakar redupnya sinar cakrawala hati, mendorongku dengan kuat untuk segera merobohkan ribuan tumpukan mayat kata itu, menguburkan mereka dengan layak dalam satu liang maut, menancapkan nisan hitam dengan goresan huruf tanpa makna . Seketika, bibir tipisku mulai mengembang, seakan secercah harapan mulai menapaki hatiku yang telah mati, terbunuh oleh keputus asaan.

Tapi... "Ah ! sia- sia saja !" kataku. Karna aku sendiri, saat ini tak lagi bernyawa...

Ya, aku sendiri telah mati ! Menjadi seonggok mayat tak berarti !


Sudut ruang tak bertuan.
Dalam penantian sebuah inspirasi.

# ODOP 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar