Senin, 03 Oktober 2016

Mengenang "Keangkuhan" Elizabeth 8 tahun yang lalu.


Coretan Usang Elizabeth


Adakah yang masih mengingatku ? (Maaf, kalau kedengaran agak PD ! he.he.he). Tahun lalu aku pernah mengenalkan diriku sebagai mahasiswi fakultas hukum di suatu PTN ternama di Jakarta. Yups ! Aku adalah anak biologis Raharjo, tanpa mengikutkan ideologisnya. Saat ini aku berada di negeri para mullah[1], menemani dua orang bule yang sedang melakukan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip puisi asketik Persia kuno. Mereka berdua sedang melakukan kajian tentang adanya pengaruh sastra Persia terhadap bait-bait puisi sufistik Islam. Dua bule yang ku temani ini berbeda negara plus gender. Yang perempuan bernama Sophie, masih seumuran denganku, berasal dari Yunani, seorang pakar filsafat. Sedangkan yang satunya lagi adalah Annemarie Schimmel, seorang pakar sejarah agama dari Jerman, dulu beliau pernah bekerja sebagai dosen di Universitas Ankara, Turki selama 5 tahun. Annemarie ini merupakan orientalis yang begitu intens melakukan penelitian terhadap kajian sufistik Islam, terutama kajian tentang Ar-Rumi. Beberapa hari lalu aku menghadiri launching buku beliau dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul : "Menyingkap Yang-Tersembunyi".[2] Tidak usah heran kenapa aku bisa sampai menemani mereka berdua melakukan penelitian hingga ke negeri Ahmed Dinejad, itu tidak lain karna aku mempunyai hubungan kedekatan emosional dengan beliau berdua, bukan kedekatan intelektualitas. Kebetulan mereka berdua sering mengunjungi lembaga kajian sejarah di kawasan Matraman, tempat aku kerja part time, sebagai tukang bersih-bersih lemari perpustakaan sambil menyelesaikan studiku di Fakultas Hukum.

Ohya, kali ini aku ingin sedikit sharing tentang errornya otakku, yang sedang memikirkan sesuatu berkaitan erat dengan keberadaanku di sini. Ehm, begini.. aku sering kali termenung sambil tersenyum sendiri di kamar dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepala jika teringat tingkah-polah mereka-mereka yang biasa disebut sebagai kekasih Tuhan itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, kira-kira bir merk apa yang telah mereka tenggak hingga mereka bisa mabuk kepayang terhadapNya seperti itu. Setiap desahan nafas, dan detakan jantung mereka tak henti-hentinya selalu menyebut namaNya. Herannya lidah mereka tak pernah kelu dan ngilu melakukan hal itu. Aku yakin, pecinta sekelas Shakespare pun tak kan sanggup melakukan hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh para pencintaNya.

Kadang aku sedikit pasang curiga, "Ah ! jangan-jangan Dia telah berbuat sesuatu, apapun itu, sehingga mereka bisa seperti itu." Oh, andai saja Tuhan melakukan jumpa pers di dunia, aku akan datang ke tempat acara itu, berlari mendekatiNya, menyeruak diantara para kuli tinta , dan berkata : "Tuhan, ehm, maaf sebelumnya kalau aku agak lancang, begini Tuhan, aku ingin bertanya padaMu perihal kekasih-kekasihMu. Kalau boleh tahu, telah Engkau apakan hati orang-orang yang Kau sebut-sebut sebagai KekasihMu itu, sehingga mereka begitu tergila-gila padaMu?".

"Hush ! Gak ilok ! jangan sekali-kali kau mempermainkan Tuhan dengan pertanyaan konyolmu itu ! " Hati nuraniku menghardik otak kiriku. Ups ! Astaghfirullah ! Sepertinya memang tidak sopan sekali jika aku sampai bertanya demikian. Kalau aku sampai bertanya seperti itu berarti sama saja aku menempatkan diriku layaknya salah satu golongan Non-Sunni itu. Angan-angan gilaku itu pernah ku ceritakan pada sahabatku, Shophie: " Eliz, ada baiknya pertanyaan semacam kau simpan dulu, karna pertanyaan yang ingin kau ajukan itu bisa menimbulkan salah faham bagi orang yang awam. Lebih baik kamu cari bahan pertanyaan lain saja, kalau memang acara "jumpa pers" khayalanmu bersama Tuhan itu bisa menjadi kenyataan". Ujarnya bijak.

Alah, khayalan absurd ! Sekalipun seandainya Tuhan akan benar-benar melakukan jumpa pers di dunia, mustahil aku bisa temu wicara, bertatap muka langsung denganNya ! karna Dia hanya mau, -lebih tepatnya bisa- mengobrol dengan golongan setingkat pejabat langit saja, seperti "Moses"
[3] yang pernah Dia ajak bicara di suatu bukit nun jauh disana. Hamba beriman gembel seperti aku, mana bisa berdialog, tanya jawab langsung denganNya. Kalaupun seandainya aku memaksa berteriak-teriak dari jauh bertanya padaNya (aku tak bisa bicara dari dekat, karena tentulah banyak bodyguard yang menghalangiku untuk mendekatiNya. Gak usah jauh-jauh deh, di dunia saja, kita harus berteriak-teriak memanggilNya dari menara setiap kali akan sholat, iya tho? Betul begitu, bung Muadzin? ), Dia hanya akan tersenyum padaku, tanpa menjawabku dengan kata, dan untuk mendapatkan jawabanNya, aku harus mencari – cari sendiri diantara semak-semak ketidakpastian.

Huh ! Aku paling tidak suka ditikam oleh rasa penasaran, tanda tanyaku telah menggunung, dan aku ingin segera meletuskannya dengan cara lain, tanpa harus menunggu acara jumpa pers itu akan terjadi. "Tapi, bagaimana caranya, ya..?" Aha ! Aku akan mengalihkan perhatianku pada kekasih-kekasihNya saja. Ya ! Aku akan bertanya pada mereka saja, tapi tentunya dengan pertanyaan yang berbeda, aku akan menanyakan pada mereka, apakah yang membuat mereka begitu tergila-gila pada RobbNya ? Tunggu saja, aku akan segera menemui mereka di basecamp mereka, kampung pecinta Tuhan.
***
Akhirnya sampai juga aku di kampung ini. Kampung ini bernama kampung "Wak-wak", sama persis dengan nama pulau khayalan tempat hunian Hayy bin Yaqidzon, tokoh utama fiktif karya ulama' besar Ibnu Thufail, dalam masterpiece sastra sufistik terkenalnya : Hayy bin Yaqidzon. Asal tahu saja, kata professor buku, novel ini sempat mencuat di belahan Eropa setelah masa Renaissance, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di masa itu. Sampai si Spinoza (tahu Spinoza, kan?) filosof dari Belanda itu menerjemahkan karya Ibnu Thufail ini dari bahasa Latin ke dalam bahasa ibunya.
Meski nama pulau ini sama dengan hunian si Hayy, tapi suasananya berbeda. Karna kawasan pecinta Tuhan ini tidak berupa hutan belantara dengan banyak gua disana sini seperti yang terdapat dalam novel itu, tapi mirip dengan kampung-kampung di desa-desa dengan terdapat banyak sekali gubug lesehan bertebaran. Rata-rata gubug dihuni oleh seseorang berpenampilan mirip syekh dengan sejumlah tetamunya , tengah menikmati hidangan-hidangan dzikir.

Tak ingin kehilangan kesempatan emas, akupun lantas sibuk mondar-mandir, keluar-masuk dari satu gubug ke gubug lain, mewawancarai para kekasih Tuhan. Yang kukunjungi tentunya gubug-gubug yang sudah ku kenal baik nama pemiliknya dari professor buku. Seperti gubugnya Rabi'ah, Ar-Rumi, Al-Hallaj, Suhrawardi, dll.

Gubug yang pertama kali ku kunjungi adalah gubug Rabi'ah. Bisa ditebak kenapa aku memilihya, tidak lain karna aku bergender sama dengannya ( diskriminatif sedikit boleh, kan ?). Ketika aku akan memasuki gubugnya, sayup-sayup ku dengar suara merdunya melantunkan puisi cinta untuk Kekasihnya :
Wahai kecintaan semua hati.
Aku tak punya perasaan selain kepada-Mu.
Sebab itu, kasihanilah hati ini seperti pendosa yang datang pada-Mu.
Hati ini tak dapat mencintai yang lain kecuali Engkau.

Kalau aku dengarkan secara seksama penggalan puisi yang tengah ia lantunkan tadi, kalau boleh aku nilai (dengan segala keawaman yang kumiliki akan estetika sastra, tentunya ! Maklum saja, aku bukan mahasiswi sastra !) sebenarnya bait-baitnya tidak serumit dan sedalam milik Rumi atau Ibnu Arabi. Justru perasaannya lebih kuat daripada seni puisinya, terbukti karna begitu kuatnya cinta itu pada Kekasih sejatinya, hingga ia menolak lamaran sufi terkenal, Hasan al-Bashri.
Selang beberapa saat, aku mulai memberanikan diri memasuki gubugnya ketika kurasa dia telah menuntaskan puisi-puisinya. Aku takjub ketika pertama kali kulihat parasnya yang ayu, subhanallah ! Benar-benar cantik ! Ia memiliki dua kecantikan sekaligus, inner dan outer. Pantas saja Hasan Al-Bashri ingin sekali mempersunting dirinya menjadi pasangan dunia akhirat.
Setelah sedikit berbasa-basi dengannya akupun mulai menjalankan misi utamaku, menanyakan padanya tentang bagaimana dan alasan apa yang membuat dirinya begitu mencintai Tuhannya. Dia menjelaskan padaku dengan jawaban yang membuatku terpaksa memberikan lebih banyak lipatan di dahi. Otak awamku tak mampu menjangkau penjelasannya yang melangit.
Hal serupa juga terjadi pada pemilik gubug-gubug lain . Mereka memberikan jawaban-jawaban yang memberatkan kepalaku. Membuat migrainku kumat ! Masalahnya, mereka tidak hanya menjawab pertanyaan utamaku, lebih dari itu mereka juga menjelaskan teori-teori asketik Islami yang disandarkan pada mereka.
Rabi'ah dengan madzhab mawaddahnya ; Rumi dengan Whirling Dervishes
[4]nya ; Suhrawardi dengan teori Iluminasinya[5] ; Alhajj dengan "Ana Al-Haqq"nya, dsbg.
Ah… tinggal satu gubug lagi yang harus ku kunjungi, gubug milik Ibnu Arabi, setelah itu aku akan pulang ke dunia fanaku. Lumayan melelahkan perjalanan spritualku kali ini, tapi sangat mengasyikkan. Migrain berdenyut di kepala ku abaikan. Aku akan meminum obat sepulang dari gubug Ibnu Arabi.
Alhamdulillah.. migrainku agak mereda sesaat ketika sampai di gubug Ibnu Arabi. Saat ku kunjungi, beliau sedang sibuk menulis sebuah kitab, sambil menyenandungkan beberapa bait syairnya berulang-ulang hingga aku hafal dibuatnya :

"Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa;ia merupakan padang rumput bagi menjangan,biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala,ka`bah tempat orang bertawaf,batu tulis untuk Taurat,dan mushaf bagi al-Qur'an.Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya;itulah agama dan keimananku:"
Suara merdunya membuat migrainku sedikit mereda. Kalau aku perhatikan, puisi ini sepertinya sudah pernah aku kenal sebelumnya. Tapi, dimana ya aku pernah membacanya..? Ohya ! Aku pernah membacanya di majalah ISLAMIA pimpinan DR. Hamid Fahmi Zarkasyi, putra biologis sekaligus ideologis pendiri pondok Gontor. Ya, ya, ya, ya ! Benar ! seingatku puisi yang sedang dibacakan Ibnu Arabi saat inilah yang menyebabkannya didakwa oleh orientalis Jerman Fritchof Schuon sebagai sufis-liberal pendukung gagasan Pluralisme. Pendapat ini diamini oleh muridnya Nasr Abu Zayd, intelektual Mesir yang di hukumi murtad oleh ulama-ulama Mesir, karna tulisan-tulisannya dinilai melecehkan Al-Qur'an, dia mengatakan Al-Quran adalah "Produk Budaya" (Muntaj Tsaqofi) . Nasr telah mengaplikasikan metodologi pendekatan sastra kontemporer terhadap Al-Qur'an. Di hukumi telah ber-apoctacy (murtad), Nasr lantas melarikan diri ke Belanda, disana justru dia dielu-elukan oleh kaum orientalis, dan dinobatkan menjadi guru besar Ilmu Al-Qur'an di Universitas Leiden. Dari sinilah Nasr mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran liberalnya melalui anak didiknya di Leiden. Kaum Liberalis Indonesia lumayan banyak yang telah didik oleh Nasr di Leiden.

Nasr sama "berbahaya"nya dengan Arkoun. Bedanya, Arkoun melakukan pendekatan histories terhadap Al-Qur'an. Dalam teorinya tentang wahyu, dia membedakan wahyu terbagi menjadi dua peringkat : Peringkat pertama adalah apa yang disebut Al-Qur'an se­bagai Umm al-Kitab (Induk Kitab) (Al-Qur'an, 13:39; 43:4). Peringkat kedua adalah berbagai kitab termasuk Bible, Gos­pel, dan Al-Qur'an. Umm al-Kitab adalah Kitab Langit, wah­yu yang sempurna, dari mana Bibel dan Al-Qur'an berasal. Pada peringkat pertama ( Umm al-Kitab), wahyu bersifat abadi, tidak terikat waktu, serta mengandung kebenaran ter­tinggi. Namun, menurut Arkoun, kebenaran absolut ini di luar jangkauan manusia, karena bentuk wahyu yang seperti itu diamankan dalam Lawh Mahfuz (Preserved Tablet) dan tetap berada bersama dengan Tuhan sendiri. Wahyu hanya dapat diketahui oleh manusia melalui bentuk pada peringkat kedua. Peringkat kedua ini, dalam istilah Arkoun dinamakan "edisi dunia" (editions terrestres). Menurutnya, pada peringkat ini, wahyu telah mengalami modifikasi, revisi, dan substitusi.[6]
"Olala ! ada-ada saja teori pemikiran mereka ini." Mushaf Utsmani yang benar-benar "Divine Text" (teks keilahian), dan telah disepakati oleh ulama' salaf selama berabad-abad, kok dengan gampangnya di ubah-ubah seakan-akan menjadi "Human Text" (Teks manusiawi). Yach, gak heran deh, mereka begitu. 'kan karna menyamakan Al-Qur'an dengan Injil yang bisa di kritisi dengan metodologi "Biblical Critism". Jadi, metodologi "Biblical Critism" yang sempat menggema di Eropa decade akhir abad XIX itu pengen di terapkan di Al-Qur'an juga. Pusing, ah..! Makin ribet aja kayaknya.
Tuh,kan.. jadi ngelantur kemana-mana, ini gara-gara syair Ibnu Arabi, sih ! By the way, kayaknya aku udah capek nih, nungguin Ibnu Arabi nulis-nulis memakai pena bulu ayam kok belum selesai-selesai juga ya..? Kayaknya harus kuganggu sekarang nih. Mmm… ada kesempatan emas, Yups! Aku akan bercerita pada beliau tentang klaim orientalis barat padanya akibat puisi kontraversialnya. Kira-kira bagaimana ya, tanggapan beliau..? hi.hi.hi. Beliau pasti kaget jika ku ceritakan ulah Fritchof Schuon dan Nasr terhadap pemikirannya.

***
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, beliau lumayan terkejut ketika ku ceritakan ide Schuon dan Nasr, beliau menghela nafas berat ketika mendengar ceritaku. Belum sampai ending-nya, tiba-tiba beliau bangkit dari tempat duduknya, menunjukkan padaku buku yang tengah beliau tulis tadi. Oh.. ternyata tadi beliau sedang menulis buku Dzakha'ir al-A‘laq syarh Tarjuman al-Asywaq. Sambil ku buka lembaran lembaran kitab yang beliau berikan padaku, beliau menjelaskan bahwa puisi kontraversial itu telah beliau jelaskan dalam kitab tersebut. Kata beliau, yang dimaksud dengan "agama cinta" pada bait puisinya itu ialah agama Nabi Muhammad SAW, merujuk kepada firman Allah SWT dalam al-Quran, surah Al Imran, ayat 31, yang artinya: "Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku! --niscaya Allah akan mencintai kalian." Hmm.. pantas saja tadi beliau menulis buku sambil mengulang-ngulang syair itu, karna buku yang sedang ditulisnya berisi tentang keterangan syair itu.
Selesai bertanya seputar puisi itu, aku kembali ke misi utamaku. Menanyakan beliau tentang pentingnya mencintai Tuhan. Sama seperti pendapat pecinta-pecinta Tuhan yang lain. Jawaban beliau membuat migrainku kembali menyiksaku. 'Ku rekam jawaban-jawaban beliau di MP-4 kesayanganku yang setia menemaniku kemanapun pergi. Aku langsung pamit pulang setelah beliau memberiku hadiah berupa manuskrip asli kitab " Tarjuman al-Asywaq". Benar-benar surprise ! Segera kumasukkan manuskrip itu ke dalam tas ransel hitam mungil bututku. Manuskrip ini rencananya akan ku pelajari di dunia fana nanti bersama Annamarie dan Sophie, dan nantinya akan kusumbangkan ke salah satu museum di Spanyol tempat Ibnu Arabi berasal, setelah selesai kami pelajari bersama. Ah, rencana brilliant!.
Dan... Ugh ! Tuhan..! makin lama migrainku kian menusuk-nusuk kepala. Jawaban-jawaban mereka tiba-tiba terngiang-ngiang dan berdengung-dengung di telingaku. Aku ingin segera minum Panadol Ekstra untuk menghilangkan migrainku. Aku butuh air untuk menelannya. Selama mengunjungi gubug-gubug itu beberapa di antara mereka menyuguhiku hidangan dzikir. Tentu saja tak sedikitpun ku sentuh. Karna aku hanya butuh hidangan dunia fana. Aku butuh nasi dengan lauk tahu-tempe dan Es degan, bukan dzikir !

***

Tak tahan dengan sakit kepala yang kuderita, aku segera menjauh dari gubug-gubug itu, duduk beristirahat di trotoar terdekat. Sambil memijat sebelah kepala, aku celingukan menoleh ke kanan dan kekiri, mencari-cari penjual air mineral untuk segera meminum Panadol Ekstraku. Yach, aku sudah tak tahan dengan sakit kepala yang menahun ini. Aku berharap ada penjual air mineral di kawasan ini.
Seperempat jam berlalu, tak ada satupun penjual air minum yang lewat. Bosan menunggu, aku mulai mengeluarkan sebatang rokok dari saku celana jeansku dan menyulutkan api di ujung nya, lantas mulai menghisapnya dalam-dalam, (Ingat pembaca, ini bukan salah tulis, aku benar-benar merokok ! Ini memang kebiasaanku ketika sedang di landa stress. Maklum sajalah, aku dulu anak jalanan) ku harap hal ini bisa menetralisir fluktualisasiku beberapa saat. Ah… aku mulai merasa tenang, meski rasa sakit di kepalaku masih berdenyut.
Ketika batang rokokku tinggal 5 cm, aku mulai bisa tersenyum sendiri, karna harapanku mendapatkan air mineral tampaknya akan segera terwujud. Dari jarak 100 meter ku lihat seorang bocah dengan kotak kayu berisi beberapa botol air yang bertengger di perutnya tengah mendekat ke arahku.

"Dek, beli air mineralnya satu!". Anak kecil itu tersenyum mengiyakan. Tangan mungilnya cekatan memilihkan salah satu botol air mineral untukku. Wajahnya tampan, setidaknya diatas rata-rata anak kecil di Indonesia pada umumnya, kutaksir umurnya sekitar 10-12 tahun. Tatapan matanya yang begitu teduh mengingatkanku pada tatapan mata salah satu model video klip lagu Nancy Agram yang berjudul Sichr Uyunah. Benar-benar mirip ! Bedanya hanya dari segi usia saja.

"Berapa harganya, dek? 1000? 2000?" mendengar pertanyaanku, anak kecil itu mengernyitkan dahi . "Maaf, kakak dari mana?"
"Aku dari dunia fana." Jawabku singkat "Oh, jadi kakak pengunjung di sini?" Tanya dia lagi. "Iya", kataku.
"Baru pertama kali datang ke sini, ya?" Kali ini dia menebakku
"Lho, kok bisa tahu ?"
" Ya, wajar saja saya tahu, kakak tadi menghargai botol air mineral dengan sejumlah nominal. Padahal, sudah menjadi kebiasaan di kampung ini, semua barang hanya di hargai dengan bacaan sholawat atas nabi."
"Oh ya?" Aku terkesiap. "Jadi, aku harus baca sholawat berapa kali?"
"Baca sholawat sepuluh kali"

Meski terasa aneh, demi rasa haus yang tak tertahankan, aku turuti saja harga yang harus kubeli sebagaimana yang ia minta. Setelah itu segera ku minum Panadol Extra yang sejak tadi telah berada dalam genggaman tanganku. Aku berencana akan langsung pulang ke duniaku setelah migrainku mereda nanti. Sebenarnya aku agak kecewa karna tak bisa mendapatkan apa yang ku angankan. Ketika pening di kepalaku mulai mereda, baru ku sadari ternyata anak kecil yang ku sebut malaikat itu belum beranjak pergi. Dia malah ikutan duduk di pinggir trotoar bersamaku. Ingin beristirahat sebentar, katanya.

Tampaknya dia dapat membaca kekalutan yang ada di hati dan otakku. Setidaknya itu ditunjukkan pada nada tanyanya padaku saat itu : "Kak, kakak kenapa? Sepertinya ada yang sedang dipikirkan..?". Karna aku tak mengenal siapa-siapa di kawasan itu, akupun menumpahkan segala apa yang ku alami hari ini padanya dari awal hingga akhir. Dia mendengarkanku dengan seksama, dan sesekali manggut-manggut sebagai tanda bahwa dia ikut memahami dan mengerti apa yang aku rasakan.

"Kira-kira bisa ngga' kamu memberiku salah satu alasan asyiknya mencintai Tuhan yang sanggup kucerna agar bisa mendorongku untuk menyintaiNya dengan tulus? Tapi, aku ingin alasan itu bukan alasan-alasan klise seperti yang dikatakan oleh teolog-teolog itu. Mereka mengatakan bahwa mereka mencintai Tuhan, karna Dia adalah pencipta Alam Raya lah, karna Dia selalu ada di saat kita butuhkan lah !, dengan segala keagungan sifat-sifatNya lah, ah ! terlalu klise menurutku ! Alasan yang kuinginkan juga jangan terlalu pelik seperti yang dikatakan oleh pemilik-pemilik gubug-gubug kawasan ini. Bah ! Pening aku mendengarnya !" .

Merasa masih diperhatikan, ku keluarkan sisa-sisa bongkahan batu besar yang masih mengganjal di hatiku . Aku tidak peduli dia faham atau tidak dengan omong kosongku, yang penting aku bisa berkoar-koar dengan bebas. "Aku sama sekali tak peduli orang lain mengatakan aku gila, ataupun sinting gara-gara ulahku yang selalu 'mengusik-usik Tuhan' dengan berbagai pertanyaan konyolku. Karna mereka sama sekali tak mengerti apa yang aku rasakan. Toh, ini otakku sendiri, hatiku sendiri. Apa gunanya otak kalau bukan untuk berfikir ?! Mereka lupa bahwa pemikiran seseorang itu terpengaruh oleh lingkungan dan pengalaman. Dan satu hal lagi, segala sesuatu di dunia itu mengalami proses. Saat ini aku sedang mengalaminya dalam suatu fase kritis."

Tatapan mataku mulai nanar, ku coba menahan keluarnya buliran-buliran hangat yang perlahan mengkristal di kantung mataku. Pantang bagiku terlihat lemah di depan kaum Adam, karna ingin membasmi teori "Female", merujuk pada bahasa Yunani "Fe-mina", yang berarti "one with less faith". Teori ini menurutku menjadi perpanjangan ide ke-inferior-an wanita. Ohya..? Really..? memang laki-laki saja yang bisa jadi superior..? Tuh, buktinya ada Indira Gandhi, Margaret Tathcher ataupun Benazir Bhutto. Seketika bayangan masa lalu suramku seakan berputar cepat seperti piringan CD di depan mataku. So, kalau aku sampai menitikkan air mata di depan kaum Adam, berarti aku turut mengafirmasi kebenaran teori itu. Setelah sedikit menghela nafas berat, akupun melanjutkan agitasiku :

"Untuk menyembuhkanku dari fase ini, aku ingin berlari pada Tuhan, mencoba benar-benar mencintaiNya, tapi dengan alasan yang bisa menentramkan hatiku. Alasan para pecinta Tuhan dan teolog-teolog itu belum dapat kuterima. Aku tidak ingin mengalami nasib sama seperti Karen Amstrong yang meninggalkan biara katolik Roma karna merasa penat dengan teori Ketuhanan Kristen yang menurutnya begitu membingungkan, sampai dia bercerita bagaimana di masa kecilnya dia merasakan ajaran agamanya seakan menjadi kredo yang menakutkan baginya.." Puas ! itu yang kurasakan setelah berorasi dadakan di depan anak kecil berwajah innocent.

Anak itu hanya tersenyum mendengar semua celotehanku. Dia tidak segera menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengeluarkan pena dan secarik kertas dari kantong bajunya yang lusuh. Dan kulihat dia mulai menulis beberapa kata, entah apa. Selesai menulis, kertas itu dilipatnya dan diberikan padaku.

"Kakak boleh membuka kertas ini setelah aku pergi dari sini. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk kakak. Semoga apa yang tertulis dalam kertas ini bisa menjadi obat kekalutan kakak."
"Ohya ?, hmm… terimakasih, dek !"
"Sudah dulu ya kak, saya pamit dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"

Selepas kepergiannya, aku segera membuka kertas yang ia tulis untukku, seketika bau harum menyeruak dari kertas yang diberikannya :

Kakak, aku sebenarnya tak tahu jawaban apa yang bisa menenangkan hatimu. Tapi aku mungkin bisa memberimu penjelasan sederhana, tentang perbedaan mencintai Tuhan dan mencintai makhluk.

Mmm… Kak, kalau menurutku, hanya dengan mencintai Tuhan saja yang bisa menarik kita untuk mendapatkan cinta-cinta yang lain. Lain halnya jika kakak mencintai makhluk, kakak hanya akan terpaut pada satu cinta, yang akan terus membelenggu kakak, tanpa bisa menarik cinta-cinta yang lain.

Salam hangat dariku,
Wildan

Hatiku serasa tersirami oleh air embun selesai membaca surat itu. Jawaban yang sangat sederhana, namun bisa mendinginkan otakku. Aku tidak tahu mengapa aku bisa begitu saja menerima isi surat itu tanpa mengkritisi habis-habisan seperti biasanya. Kali ini, otak kananku bekerja lebih optimal daripada otak kiriku. Aku merasa terhipnotis, kerasnya kepalaku dan bekunya hatiku terkalahkan semua oleh isi surat itu. Hati bekuku mulai mencair perlahan. Entahlah, aku bingung dengan diriku sendiri. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Aku tertunduk lesu sambil meletakkan kertas itu tergenggam tanganku di atas kepala. Sungguh! Aku benar-benar letih dengan semua ini. Aku terhenyak beberapa saat ,apakah ia "wildan", pelayan surga yang Tuhan kirimkan padaku? kertas itu kembali ku lipat dan ingin ku simpan ke tasku untuk segera kubawa pulang. Namun, belum sampai kumasukkan ke dalam tas, ajaib ! ternyata kertas itu telah berubah menjadi daun jati kering dan perlahan menjadi debu, beterbangan dan akhirnya hilang sama sekali.

Bukan hanya itu. Gubug-gubug yang tadinya berjajar di sekitarku hilang begitu saja. Mataku menyapu pemandangan di sekitar. Aneh ! Tak ada satu gubugpun yang tersisa di sekelilingku. Dan tiba-tiba saja aku sudah berpindah tempat ke tengah padang sahara yang sangat luas, kering, gersang dan sunyi. Tak ada seorangpun yang berada di padang sahara ini kecuali aku dan nafasku sendiri.
***
Sejauh mata memandang, yang nampak hanya pasir, pasir dan pasir. Lama sekali aku berjalan terseok-seok seorang diri. Aku hanya terus berjalan dan berjalan tak tentu arah. Langkahku mulai terhuyung dan tak lagi teratur. Kerongkonganku mulai mengering, sementara persediaan airku telah menipis. Air botol mineral yang ku beli dari "wildan" tadi hanya tinggal beberapa tetes saja. Apabila ku minum, maka ia akan habis sama sekali. Ya Tuhan ! Berilah aku setitik air saja ! Oh, setitik air, betapa berharganya di tempat yang sekering ini.

Langkahku terhenti ketika dari kejauhan aku melihat tempat persinggahan. Tempat itu hanya beratapkan pelepah kurma dengan dinding bebatuan putih, mirip bentuk masjid di masa Nabi Muhammad.

Banyak sekali orang-orang yang berkerumunan di sana, beberapa dari mereka sepertinya telah kukenal. Kalau tak salah mereka adalah orang-orang yang berada di gubug-gubug tadi. Mereka tengah duduk melingkar seperti sekelompok orang yang sedang melakukan kegiatan halaqoh keagamaan, di depan mereka ada satu orang yang sama sekali tak ku kenal. Aku begitu memusatkan perhatianku padanya. Ku pikir, dia yang berada di tengah-tengah jamaah itu, adalah pemimpinnya. Dan yang membuatku takjub, hanya dia satu-satunya yang rona wajahnya mengeluarkan cahaya. Aku menajamkan sorot mata kuyuku yang bernaung dalam cekungan lubang mataku. sia-sia saja! aku tak mampu mengenali wajah lelaki itu.

"Apakah ia…?" Ku biarkan pertanyaanku menguap di udara.

Diantara kebingunganku mengenali sosok lelaki di tengah jamaah yang berjarak 20 meter dariku itu, tiba-tiba saja sebuah tepukan halus mendarat di pundakku : "Kak, orang yang sedang kau amati itu adalah kekasihNya yang paling Ia cintai, dia adalah Muhammad S.A.W"
Itu suara wildan ! Dia berdiri tepat di belakangku. Namun, aku masih tak percaya dengan apa yang ku dengar darinya.
Akupun berkata : "Siapa?", " Nabi akhir zaman !". Jawabnya dengan nada lebih tinggi.
" Benarkah?!", aku tercengang, aku tak menyangka bahwa aku akan berkesempatan menemuinya.
"Kak, tunggu apa lagi?"
"Segeralah pergi kesana !" Setelah menyuruhku pergi, diapun lenyap begitu saja

Hatiku bahagia tak terkira. Tapi, apa aku termasuk orang pilihan ? Ah, tidak mungkin ! karna orang-orang pilihan saja yang dapat bertemu dengannya. Aku berperang dengan batinku sendiri. Ah sudahlah, yang penting beliau sekarang aku berada di satu tempat dengan beliau. Jadi, Tunggu apalagi ? oh.. aku harus segera menemuinya. Ya ! menemui kekasih yang paling Ia cintai. Namun…hey ! apa ini?! Tiba-tiba saja langkah kakiku sama sekali tak bisa bergerak. Sepertinya ada rantai yang tengah membelenggu kakiku.

"Oh, Tuhan ! Mengapa kakikku tak bisa ku gerakkan?"

Ku coba arahkan pandanganku ke bawah. Seketika ku lihat wajah-wajah hitam menyeramkan muncul dari dalam benaman pasir yang kupijak. Mereka mencengkeram erat kakiku , membuatku tak mampu lagi berjalan. Makhluk-makhluk itu terlalu kuat untuk kulawan. Jumlah mereka tidak sedikit. Makhluk hitam yang terbesar di antara mereka mencoba menikam manik mataku dengan tatapannya yang setajam pisau, membuatku harus memejamkan mata rapat-rapat, dan hanya membiarkan dua cuping telingaku yang waspada : " Heh ! Jangan pernah berharap kau akan bisa menemui kekasih TuhanMu! kami tidak akan pernah membiarkanmu dapat menemuinya,Tidak akan ! Ha,ha,ha, ! " Tawa makhluk menyeramkan itu menggelegar hingga merobek langit.
"Tidak ! Tidak ! Tuhan ! Tuhan ! Tolonglah aku… Lepaskan cengkeraman mereka dari kakiku, Tuhan !"

Aku berusaha bertahan dengan sisa-sisa tenaga dan nafasku. Namun sia-sia saja, makhluk-makhluk buruk itu bahkan memanggil teman-temannya yang lain yang tengah melayang-layang di udara. Gerombolan makhluk buruk yang lain turut mencengkeram tanganku. Kini aku tak bisa bergerak sama sekali, karna kedua tangan dan kakiku tercengkeram erat oleh mereka.
Dengan mata sembab terpejam, aku merintih lirih : " Ya Tuhan ! Beri aku kesempatan untuk dapat menemui kekasihMu!" Ku rasakan buliran hangat mulai mengalir perlahan di pipi,
"Aku mohon pada-Mu, ya Allah !"
Rintihan tangisku makin mengencangkan tawa mereka. "Ha.ha.ha ! Teruslah memohon padaNya! Dasar tolol ! Dia tak akan pernah mendengarkanmu karna selama ini kau selalu melalaikanNya ! Ha.ha.ha !"
" Tidaaak ! Allaaah !"

"Eliz ! Eliz ! Bangun  ! What's wrong with you ?!!". Oh, ternyata Cuma mimpi, aku masih berada di kamarku, bukan di tengah di padang sahara. Oh.., syukurlah ! Namun, tunggu dulu ! aku masih bisa merasakan nafasku tersengal-sengal. "I'm okey! I'm okey ! Don’t worry !", aku berusaha meyakinkannya. "Are you sure?" "Yes… I'm!" Setelah mengusap buliran-buliran keringat mengembun di keningku, Sophie beranjak pergi dari tempat tidurku dan segera mengambilkan air minum di dapur dengan langkah tergesa .

Diluar, langit menggelap, hujan turun dengan deras. Aku bangkit merapat ke jendela, memandang langit dari dalam. Tiba-tiba kilatan cahaya menyambar, meninggalkan goresan penuh di langit, merangkai sebuah kalimat arab yang tak asing bagiku. Aku terpana ! Goresan itu berbunyi : Alâ bi Dzikrillâhi Tahtmainnul Qulûb.


By : Zoel
Dalam "perjalanan" yang makin tak jelas arahnya.
Tripoly, 5 Maret 2008.

Referensi :
1. Amstrong, Karen. Sejarah Tuhan. Mizan. Bandung . 2001.
2. Thufail, Ibnu. Hayy bin Yaqdzon. Navila. Yogyakarta. 2003.
3. Armas, Adnin. Metodolgi Bibel dalam Studi Al-Qur'an. Versi digital.
4. Beberapa artikel tasawuf dari situs net.



>>> Tulisan ini, saya tulis 8 tahun yang lalu. Saat membukanya lagi, saya tak dapat menahan emosi yang campur aduk jadi satu. Tapi bagaimanapun juga, tulisan ini menjadi salah satu sejarah hidup saya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar