Saat membaca literatur dinasti Umayyah, nama tokoh yang langsung muncul di kepala saya adalah Umar bin Abdul Aziz. Bukan Muawiyah, Sang pendiri dinasti, atau Jenderal Thariq bin Ziyad, penakluk Andalusia, yang namanya abadi hingga saat ini, tersemat pada sebuah gunung di dataran Eropa. Meskipun ketiganya telah menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam, saya tetap lebih mengagumi Umar, Sang Khalifah ke-lima.
Begitu kagumnya saya pada Umar bin Abdul Aziz, sehingga saat masih berstatus mahasiswi, saya sempat membuat 'kunyah' untuk diri saya sendiri dengan sebutan 'Ummu Umar' (He.he.he) . Dengan harapan jika kelak memiliki anak lelaki, saya berharap anak saya nanti bisa meniru sifat-sifat mulia Umar bin Abdul Aziz.
Salah satu sifat mulianya yang saya kagumi adalah sifat kezuhudannya. Kisahnya sudah amat masyhur. Meski berstatus sebagai khalifah atau raja yang identik dengan gemerlapnya dunia, beliau sama sekali tidak terlena oleh hal itu. Bahkan satu-satunya raja yang mewarisi gaya kepemimpinan Khulafaur Rasyidin ini, dengan rela melepas segala kemewahannya, tinggal di gubug reyot, dengan segala keterbatasan layaknya orang tak punya. Seorang Raja yang hanya memiliki satu baju kain kasar selama masa pemerintahannya. Seorang raja yang hanya mewariskan 10 dirham untuk anak-anaknya, sebuah nominal sangat jauh dibawah wajar untuk ukuran kekayaan seorang raja yang memiliki wilayah kekuasaannya meluas dari Asia hingga belahan bumi Afrika.
Itu semua tak lepas dari sifat sederhana dan kezuhudan yang tersemat pada Umar bin Abdul Aziz. Berbicara tentang sifat kezuhudan Umar, yang enggan menikmati lezatnya dunia, saya jadi ingat petuah guru saya tentang fananya dunia Dalam sebuah forum pengajian kampung, guru saya pernah berkata :
"Dunia itu hina dan rendah, karena yang abadi hanyalah Akhirat. Oleh karena itu, cintailah dunia sebagaimana kalian mencintai Toilet".
Ah, pasti pembaca bingung mendengarnya, saya pun demikian. Saya sempat terperangah saat Kyai menyebut kata "toilet". Halah, apa pula hubungan dunia dengan toilet ? Beliaupun melanjutkan petuah bijaknya :
"Mencintai toilet itu harus ala kadarnya. Bukan cinta yang berlebihan. Cinta sebatas butuhnya saja. Kita memang sangat membutuhkan toilet. Kita tidak bisa hidup tanpa toilet. Tapi, bukan berarti kita harus mencintai toilet dengan cinta yang begitu mendalam layaknya cinta antara seorang suami dengan istrinya".
Sayapun manggut-manggut tanda setuju dan sesekali menyunggingkan satu senyum simpul seakan memahami apa yang beliau sampaikan. "Kehinaan dan kerendahan" dunia yang beliau ibaratkan seperti toilet sebagai tempat yang identik dengan hal yang kotor, semakin jelas kerendahannya saat beliau membuktikannya kata "dunia" dengan qoidah bahasa Arab.
Kata dunia dalam bahasa Arab disebut dengan : الدنيا , yang berwazan فعلى (baca : Fu'la). Wazan tersebut adalah bentuk Tafdhil Muannast dari افعل (Af'ala). Contoh : lafadz كبير yang memiliki arti besar, jika ditafdhil-kan, maka akan berubah menjadi اكبر atau كبرى (baca : Akbar atau Kubro), sehingga mengandung makna "lebih" atau "lebih". Sehingga dua kata tersebut sama-sama bermakana : Lebih besar atau paling besar.
Lafadz الدنيا pun demikian. Dalam kamus kita temukan huruf dasar ف ع ل nya adalah دنى , yang artinya : "sesuatu yang rendah atau hina." Jika di-tafdhilkan maka menjadi : ادنى ( bentuk mudzakkar )atau دنيا (bentuk muannats) . memiliki arti : sesuatu yang lebih rendah atau hina, atau dalam arti lain paling rendah atau hina.
Jadi tidak salah jika Guru saya dan para Ulama terdahulu menyebut dunia sebagai sesuatu yang rendah atau hina. Karena dari asal kata bahasa Arabnya saja memang memiliki arti demikian. Pantas saja Umar bin Abdul Aziz meninggalkan dunia, karena baginya dunia hanya sebuah kerendahan semata. Yang jauh dari kata bersih layaknya toilet.
Semoga kita bisa meneladani sifat Umar meski sangat sulit untuk ditiru, dan semoga suatu saat nanti, kita akan mendapati pemimpin-pemimpin negara kita menapak tilasi sifat Umar yang zuhud, sabar dan adil. Allahumma Amin.
#ODOP 3
# 4 oktober 2016
Mumtaz jiddan tulisannya Bu, seperti karya penulis novel profesional...
BalasHapusjaga terus semangat tuk menulis...
Hehehe . Masih amatiran. Mksh udah mampir
HapusPanjang banget, pelajaran waktu MDA yang..... Hihi
BalasHapusSukses terus
Waaah pelajaran MDA yg mana nih ? Jadi penasaran hehehe
Hapusو للاخرة خير لك من الاولي
BalasHapusBetul banget
HapusReferensi lain tentang Khalifah arRasyidin yang ke-5.
BalasHapusBtw,font blognya agak kekecilan, bu...
Yup. Beliau memang dijuluki demikian. Meski rentang mada hidup antara beliau dengan khulafaur Rasyidin sangat jauh.
HapusUdh cb bbrpa kali eedit tp hasilnya ttttp aja :(
Sesuatu banget baca tulisan ini... banyak informasi dan wawasan baru :)
BalasHapusMakasih Mbak. :)
Hapus